Diambang pintu , kudengar suara bergetar Bukan nyanyian kasih , namun sumpah serapah yang kasar Sorotnya tajam , memandang seolah aku noda Darah yang sama , kini terasa bagai bisa Ayah berseru , suaranya menggelegar dingin Mengungkit setiap remah , setiap peluh yang terjalin " Dari kau lahir , semua adalah hitungan Nafasmu ini , berharga dalam hitungan " Biaya hidupku , biaya membesarkan raga Kini jadi cambuk , tanpa sisa belas kasihan Lupa mereka pada tawa yang pernah bersama Hanya angkanya kini menuntut perpisahan " Pergi ! Jangan kembali ! " ucapnya tanpa sesal Kata - kata terakhir , menusuk bagai anak panah yang kekal Ku masuki dunia , dengan punggung yang terpukul Membawa bekal sepi dan hati yang terkumpul Tak ada tangan yang menahan , tak ada lirikan peduli Seakan diriku , hanyalah bayangan yang harus mati Keluarga adalah dinding , bagiku ia runtuh Menghempaskan aku pada jalanan yang rapuh Di perantauan , entah hidup , entah sekedar bertahan Meniti hari dengan luka yang tak terjamah pengobatan Mereka tidak peduli , apakah aku bernafas atau terhenti Apakah kurasakan lapar , atau dingin menusuk sepi Keluarga tak ingin tahu , tak mau ambil bagian Nasib anak terbuang , di samudra kesendirian Biarlah aku menjadi angin , jadi debu yang hilang Sebab di mata mereka , yang tak pernah dianggap pulang
No comments at this point, please be the first to comment on this post.